Rabu, 21 September 2011

Analisis Cerpen "Tegak Lurus dengan Langit" Karya Iwan Simatupang



Kutukan Tak Lagi Bisa Menjadi Keberkahan
Oleh: Hartana Adhi Permana


                Cerpen-cerpen Iwan Simatupang dalam Tegak Lurus dengan Langit dikumpulkan Dami N. Toda, dan sejak awal telah menunjukan penjelajahan yang berhasil dalam mengedepankan pergulatan eksistensial manusia yang kehidupan psikologisnya problematis.

            Karakter  (tokoh) dalam cerpen-cerpen Iwan Simatupang sangat “khas Iwan”. Mereka adalah karakter-karakter  yang asing , “hilang”, misterius, tersesat dalam rimba labirin filosofis dan / atau terasing dari realitas kehidupan sosial. Karakter-karakter –karakter itu dalam kehidupan sehari-hari sangat mungkin kita kenal sebagai tetangga atau sahabat kita yang secara fisik biasa-biasa saja namun secara sosial mungkin kita anggap aneh karena pikiran dan tingkah lakunya yang rumit dan tidak biasa.

            Karakter-karakter itu tampaknya tidak hadir secara sembarang atau begitu saja turun dari langit khayalan. Dapat kita katakan Iwan Simatupang sengaja menghadirkan mereka dari realitas ‘kini dan di sini’ setelah terlebih dahulu di-interiorisasi, yaitu diolah lewat suatu proses membatinkan melalui penjelajahan secara mentubi ke dalam wilayah pikiran dan perasaan mereka.

            Dari hasil interiorisasi itulah, misalnya, lahir karakter aku dalam “Lebih Hitam dari Hitam” yang hidup dalam dunia yang asing, yang menyebal dari segala ukuran logika umum (common sense). Aku yang disiksa perasaan hampa dalam cerpen itu adalah pasien rumah sakit jiwa. Suatu ketika ia terlibat konflik dengan sesama pasien. Secara tak sengaja konflik itu melahirkan kembali perasaan kasih sayang dalam hatinya yang dilukiskan Iwan dengan lyric-cry (meminjam istilah Frank O. Connor) sangat menyentuh:

Pipiku basah keduanya: dunia menghenyakan dirinya ke dalam diriku. Dunia kutimang. Kasihku padanya tak terhingga.

            “Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu” dan “Tegak Lurus dengan Langit” adalah dua dari sedikit cerpen Iwan Simatupang yang pada hemat saya paling berhasil menggugah kita untuk berpikir kembali tentang kesadaran meng-Ada manusia. Yang dimaksud  “kesadaran meng-Ada” adalah bagaimana manusia (sebagai individu atau sebagai aku) menempatkan dirinya dalam hubungannya dengan orang lain, Tuhan, dan dengan segala sesuatu di luar dirinya. Karakter dalam kedua cerpen itu adalah aku yang memikul beban sisi gelap meng-Ada secara etre-pour-soi (Inggris: being-for-itself atau “kesadaran manusia”) dalam pemahaman filsafat eksistensialisme. Menurut Jean Paul Sertre , filsuf kelahiran Francis yang bukunya L’etre e le neant (Ada dan Ketiadaan) menjadi dokumen penting aliran filsafat eksistensialisme dan pikiran-pikirannya di sana-sini mempengaruhi cara berpikir Iwan Simatupang, manusia yang meng-Ada secara etre-pour-soi adalah manusia yang menggenggam kebebasan dalam kedua tangannya sendiri, dan membentuk kebebasan yang dimilikinya menurut kehendaknya sendiri. Ia menjadi semacam manusia yang dimaksudkan Sartre dengan perkataannya: I’homme n’est nen d’autre que ce qu’ilse fait atau “manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.

            Karakter yang tersesat dalam rimba labirin filosofis dan terasing dari realitas kehidupan sosial muncul pula dalam dua cerpen berikut ini. Karakter gadis dalam “Patates Frites” yang dilukiskan sebagai mirip Juliette Creco, “penyanyi eksistensialisme kota Paris” terlunta-lunta dalam pengembaraan yang melelahkan sebagai akibat dari keyakinannya yang teguh terhadap “kebenaran” filsafat dunianya.

            Secara estetika maupun tematik cerpen-cerpen Iwan Simatupang dapat dikatakan berjaya, keberhasilan itu tampaknya disebabkan bukan semata-mata karena kehadirannya dalam lingkungan kesusastraan kita pada waktu itu bersamaan dengan menggejalanya “demam eksistensialisme”, melainkan karena cerpen-cerpennya sebagaimana karya drama, novel, dan juga puisi-puisinya merupakan endapan biografis dari perjalanan jiwanya.

Publik sastra Indonesia merasakan sesuatu yang baru dalam novel-novel Iwan, namun tidak ada yang mampu menjelaskan 'kebaruan' yang dibawakan Iwan. Pada saat kevakuman itulah muncul Dami N. Toda. Dami melakukan studi yang mendalam terhadap novel-novel Iwan lewat skripsi sarjananya di FS UI (1975), kemudian dibukukan menjadi Novel Baru Iwan Simatupang. Menurut Dami, novel-novel Iwan adalah aplikasi filsafat eksistensialisme yang sedang demam di Barat mulai tahun 1950-an. Ini bisa dipahami karena bertahun-tahun Iwan belajar di Eropa, antropologi di Leiden, drama di Amsterdam (Belanda), filsafat di Sorbonne (Perancis). 

Temuan Dami N. Toda lewat Novel Baru Iwan Simatupang ini membuat namanya terangkat dan masuk dalam jajaran kritikus sastra Indonesia. Benar sekali kesaksian Rofino Kant, teman akrab Dami N Toda semasih tinggal di Jakarta, bahwa nama Dami menjadi terkenal pada waktu diskusi sastra dengan sejumlah sastrawan terkenal di Jakarta tentang novel Iwan Merahnya Merah. Dami berani memberikan catatan kritis terhadap novel tersebut (Pos Kupang, 26/10/2007). Forum diskusi sastra dan tulisan Dami tentang Iwan mengokohkan namanya sebagai kritikus sastra yang menemukan novelis besar Indonesia, Iwan Simatupang.

            'Seperti inilah cerpen-cerpen yang ingin saya tulis', begitulah kira-kira yang ada dibenak saya ketika menyelesaikan buku kumpulan cerpen Tegak Lurus Dengan Langit, karya Iwan Simatupang. Kenapa saya ingin menulis cerpen-cerpen seperti itu, Cerpen-cerpen Iwan Simatupang sangat kental sekali aroma realismenya dengan mengambil latar dan karakter orang-orang biasa yang sering sekali kita temui dalam kehidupan tetapi kadang kita tidak sadar akan keberadaan mereka hanya karena mereka adalah orang-orang biasa, orang-orang tidak penting. Taruhlah tukang cingcau, tukang becak, penjual rokok, anak gelandangan, orang gila, bahkan seorang penumpang biasa di sebuah bus kota.

Karakter-karakter tokoh yang ditampilkan dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam antologi ini, selalu saja adalah orang-orang dengan begitu banyak permasalahan, terkadang samapi mempertanyakan diri sendiri, mempertanyakan ke'manusia'annya. Manusia yang terjebak dalam dilematika kehidupannya yang biasa : sakit jiwa, penyakit darah tinggi, ditinggal pergi sang ayah, rumahnya digusur, pulang kampung, dan perasaan ingin bunuh diri; permasalahan yang klasik di negeri indonesia terlebih dalam masa proses kreatif iwan di era transisi kemerdekaan negeri ini.

Cerita tentang bunuh diri misalnya terdapat dalam 'Kereta Api Lewat di Jauhan', 'Tegak Lurus Dengan Langit' , ' Tak Semua Punya Jawab', dan 'Dari Tepi Langit Yang Satu Ke Tepi Langit Yang Lain'. Cerita tentang orang 'sakit' dapat ditemukan misalnya dalam 'Lebih Hitam Dari Hitam', 'Monolog Simpang Jalan' dan 'Senyum Di Jembatan'. Selebihnya adalah cerita-cerita yang biasa tetapi luar biasa yang dikemas dengan bahasa yang realis minim metaforis.

Tegak Lurus dengan Langit kumpulan Cerita Pendek Iwan Simatupang Penerbit Sinar Harapan, 1982, 115 hal sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang gila-gilaan dalam sebuah cerita pendek bisa sangat menarik. Dan Iwan Simatupang (1928-1970) rupanya ahli dalam hal itu. "Lima belas tahun yang lalu, terataknya didatangi seorang laki-laki kasar memperkosanya lalu pergi ...." Atau, "Oleh karena ia pada suatu hari tak tahu apa yang harus dilakukan tangannya, ia mencari tali dan menggantung dirinya." Dengan daya rangsang dan daya kejut seperti itulah Iwan membuka cerita pendeknya. Dalam Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu, ia membuka kisah dengan sepasang suami-istri yang kira-kira sedang berjalan-jalan, lantas si suami pamitan hendak membeli rokok sebentar. Tapi suami itu baru kembali sepuluh tahun kemudian. Sementara si istri tetap menunggunya di pojok jalan. 

Sebenarnya saja, seperti bisa dibaca dalam kumpulan 15 cerita pendek Iwan ini, pembukaan seperti itu selain memiliki daya pikat, pun langsung menyiapkan pembaca untuk terjun dalam satu dunia imajinasi yang lepas bebas. Suatu dunia tempat langit bisa disulap. Maka adalah seorang tokoh yang membunuh bapaknya yang baru saja kembali dari hilang. Soalnya, bapak itulah yang mendatangkan kesulitan demi kesulitan selama ia hilang itu. "Hilang adalah keadaan lebih parah daripada mati," tulis Iwan. Keluarga tokoh itu tidak ingin hilangnya kepala keluarga diketahui orang lain, untuk menjaga ketenteraman, untuk menghindarkan pertanyaan yang bukanbukan. Maka karena itulah petugas sensus yang menanyakan siapa kepala keluarga di situ, rerpaksa dibunuh oleh kedua kakak si tokoh. Cerpen Tegak Lurus dengan Langit. Yang menarik lagi, tokoh-tokoh cerita Iwan adalah tokoh yang selalu bergerak dan berbuat. Tokoh-tokoh yang praxis, tulis Dami N. Toda, yang memberi pengantar untuk buku kumpulan cerita pendek ini. Ini menjadikan cerita Iwan dinamis. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara dan kemudian belajar di Fak. Kedokteran di Surabaya, Iwan mengaku pernah mengambil kuliah antropologi di Leiden, kemudian "mempelajari filsafat di Paris". Kegiatan kreatif yang pertamatama dilakukannya ialah menulis puisi, di awal 50-an. Kemudian, drama. 

Antologi ini juga memuat cerpen Tegak Lurus dengan Langit, cerpen yang menjadi judul antologi. Sama seperti tiga cerpen yang telah kita ulas tadi, cerpen ini juga tragis. Kelam. Dalam cerpen ini, Iwan menggambarkan sebuah keluarga yang gelisah, nyaris separuh gila semuanya, akibat menghilangnya sosok yang menjadi ayah dan suami di keluarga mereka. Kehilangan sosok yang tak jelas dimana rimbanya tersebut melahirkan rasa frustasi. Si ibu tidak bisa disebut janda, karena jelas mereka belum cerai. Anak-anak tidak bisa disebut yatim karena tak ada kabar ayah mereka telah mati. Alhasil, situasi status serba tak menentu tersebut melahirkan tekanan sosial yang berimpilikasi psikologis kepada mereka semua.

Sang ibu pada akhirnya mati mendadak setelah ia tak sengaja dipergoki si bungsu bertelanjang-ria, bergulat, bemain cinta dengan pria lain. Dua kakak si bungsu dipenjara seumur hidup gara-gara membunuh petugas sensus. Kesalahan petugas sensus mungkin saja kecil, karena bertanya dimana ayah mereka. Tapi di mata kedua kakaknya, kesalahan si petugas sangat besar, membuka luka lama keluarga mereka yang selama ini tersiksa karena kehilangan ayah mereka.

Lantas bagaimana dengan si bungsu? Kisahnya lebih hebat dan tragis lagi. Sang ayah yang telah 17 tahun menghilang, tiba-tiba muncul di depan rumah mereka. Sebuah kepulangan yang sangat tidak tepat, setelah satu persatu anggota keluarga tersebut tercerabut dari rumah mereka. Si ibu mati karena malu pada anak-anak karena telah ber-seks di luar nikah dengan laki-laki lain, si kakak harus dikurung seumur hidup di penjara karena membunuh orang yang menanyakan ayah mereka dimana—ini jelas implikasi dari hilangnya ayah mereka. Kutukan-kutukan tersebut akibat dosa besar ayah mereka yang menghilang tanpa rimba. Kini sang ayah telah pulang. Kutukan tak lagi bisa menjadi keberkahan. Dosa tak lagi mungkin terhapus.

Kutukan dan dosa itulah yang membawa si bungsu pada akhirnya membunuh ayah mereka. Pembunuhan untuk menuntaskan dendam, itulah motifnya. Langkah cepat untuk membebaskan beban pikiran, itulah tujuannya. Pada akhirnya, memang si bungsu mendapatkan apa yang ia motifkan dan ia tujukan. Kebebasan dari bayang-bayang sang ayah. Dan pada akhirnya, memang ia merasakan dirinya sama-sama tegak lurus dengan langit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar