Rabu, 21 September 2011

Analisis Cerpen "Senyum Karyamin" Karya Ahmad Tohari



Ketimpangan Sosial
Oleh: Hartana Adhi Permana


“Bapak Srintil”, begitulah kawan-kawan pecinta sastra menyebut Ahmad Tohari. Pengarang  yang sekarang menetap di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas ini akrab dengan rakyat lapisan bawah. Tidak mengherankan kalau karya-karyanya selalu berpihak pada orang-orang desa yang bodoh, lugu, sengsara, menderita, dan selalu tabah dalam menghadapi kemelut hidupnya. Pembaca dan pecinta sastra mestinya tidak akan melupakan pengarang beken itu. Ia selalu mempersoalkan ketimpangan sosial yang terjadi di sekelilingnya, lebih luas lagi di negara tercinta ini yang sekarang sedang sakit, menderita menanggung beban kehidupan yang entah kapan akan selesai diatasi.

Senyum Karyamin merupakan kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang jelas-jelas mengangkat ketimpangan sosial yang disampaikan dengan nada mengkritik. Kritik masyarakat bawah terhadap atasannya, rakyat terhadap pemerintah, bahkan berbagai kritik sosial dilontarkan dalam kumpulan cerpen tersebut.

Istilah kritik yang barang kali memanaskan telinga bagi mereka yang mendengarkannya merupakan sesuatu yang seharusnya dikembangkan dalam masyarakat demokrasi seperti negara kita. Pembelajaran apresiasi sastra pun sudah seharusnya mulai mencoba menanamkan sifat kritis dan kreatif terhadap siswa sejalan dengan era kebebasan menyatakan pendapat. 

Ahmad Tohari dalam Senyum Karyamin menyodorkan kenyataan sosial yang terjadi di lingkungan kita. Hal ini terjadi karena Tohari termasuk golongan yang peka terhadap permasalahan sosial yang berkembang di lingkungannya. Kenyataan tersebut disodorkan agar golongan atasnya mengadakan perubahan. Cerpen “Senyum Karyamin” misalnya, menggambarkan potret kehidupan orang desa yang sengsara, menderita, dan selalu tabah. Untuk menyambung hidup, mereka selalu “gali lobang tutup lobang” tanpa mempetimbangkan akibat sikapnya itu. Yang penting, hari ini dapat hidup. Perhatikan kutipan berikut.

"Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti dan termangu .Dibayangkan istrinya yang selalu sakit harus menghadap dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini,hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya." (hlm. 5)

Pemaparan di atas menggambarkan tiga kehidupan, yaitu buruh, tengkulak, dan bank harian. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh sebagai mata rantai yang hampir dialami oleh orang-orang  lapiasan bawah pedesaan. Buruh selalu menguntungkan para tuannya. Buruh sebagai pihak yang selalu mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selalu menguntungkan para tengkulak. Selain itu, bank harian yang membungkus namanya sebagai koperasi pun turut andil dalam merusak tatanan kehidupan perekonomian orang-orang desa yang serba kekurangan.

Kenyataan di atas, disadari ataupun tidak , pengarang sebenarnya menyodorkan kenyataan sosial dengan harapan pihak yang berkaitan dapat menanggapi dengan mengadakan perubahan. Kritik yang dilontarkan oleh pengarang terhadap tengkulak dan bank harian itu agar masyarakat yang mempunyai modal jangan sampai melakukan penekanan dan permainan ekonomi yang dapat merugikan kaum bawah atau “wong cilik”.

Kritik terhadap tengkulak juga ditemukan dalam cerpen “Jasa-jasa Buat Sanwirya”. Ketika Sanwirya jatuh dari pohon kelapa, Sampir, Ranti, dan Waras sibuk memperbincangkan pertolongannya kepada Sanwirya dengan cara meminjamkan uang kepada tengkulak gula merah. Namun, keinginan mereka terdengar oleh istri Sanwirya seperti dalam kutipan berikut.

“Kita akan menemui tengkulak yang bisa menerima gula Sanwirya. Kukira takkan sulit meminjam sembilan puluh rupiah darinya”.

“Maksudnya agar Sanwirya nanti mengangsurnya? Pikiran yang bagus. Kalau semua sudah tidak keberatan kuminta Ranti menambah catatan!”

“Menolong? Oalah gusti…menolong?”
“Iya. Kalian tak suka kelaparan bukan?”
“Itukah sebabnya Kalian mencarikan pinjaman ke lumbung desa dan tengkulak?”
“Oalah pangeran… jangan lakukan itu. Wanti-wanti jangan. Kami takkan lebih senang dengan pinjaman-pinjaman itu”.(hlm. 11)

            Jelas sekali kepada kita bahwa Ahmad Tohari menentang sikap dan perbuatan tengkulak melalui tokoh istri Sanwirya.

Bentuk kehidupan lain yang dikritik oleh Tohari adalah sistem birikrasi pemerintah dan perilaku para priyayi zaman sekarang. Birokrasi pemerintah desa yang kurang akomodatif dan objektif tampak dalam kutipan berikut.

“Ya, kamu memang mbeling  Min. Di grumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya Kamu yang belum setor dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana”(hlm. 6).

Kritik yang dilontarkan oleh pengarang melalui tokoh aparat desa itu tampak sebuah kenyataan yang perlu dicermati dan dijadikan catatan penting.  Penerapan kebijaksanaan yang serupa saat ini masih banyak ditemukan dalam sistem birokrasi di negeri tercinta ini.

Kritik terhadap perilaku priyayi zaman sekarang dapat ditemukan dalam cerpen berjudul “Syukuran Sutabawor” sebagai berikut.

“Rupanya pohon jengkolku demikian ngeri bila kujadikan tutup lahat makam priyayi zaman akhir. Maka dia cepat-cepat berbuah,” demikian laporan sumber berita mengutip ucapan Sutabawor pada tetangga.”

“Eh, nanti dulu. Memang apa dan bagaimana priyayi zaman akhir itu? Apakah dia demikian sepele sehngga sebatang pohon pun tak sudi menjadi tutup lahat makamnya?” tanya seorang tetangga sambil menggigit sayap ayam yang tidak begitu besar.

            “Priyayi zaman akhir itu kan priyayi zaman sekarang.” Kata seseorang (hlm. 40).

            Tak dilupakan pula kritik megenai kedudukan para pembesar yang berada di kota besar. Cerpen “Ah, Jakarta” memaparkan kritik terhadap kebiasaan para pejabat yang kapan saja dapat beganti barang kesukaannya. Yang mengerikan bagi kita, mereka membeli barang kesukaannya tanpa membayar. Angkat telepon, barang datang dan sudah dibayar oleh sesorang. Misalnya, pada suatu malam seorang pejabat didatangi oleh perampok dan mereka menodongkan pistol kepadanya meminta barang-barang yang ada agar diserahkan. Namun, dengan tenang ia mengatakan, “Silakan ambil barang itu.” Cermati kutipan berikut.

“Pernah kami masuk ke rumah orang kaya di Kebayoran. Yang punya rumah bagus dan menjemput kami di ruang tengah dengan pistol di tangan. Kami siap berkelai. Tapi tuan rumah justru menawarkan barang-barangnya. Hanya satu permintaannya, agar kami tidak ribut-ribut. Dikemudian hari kami tahu bahwa yang kami rampok adalah seorang pejabat penting. Di rumah itu sedang ngendon dengan istri muda . Daripada heboh masuk koran, maka ia ambil jalan yang baik bagi kami dan amat bijak.” (hlm. 30).

Dua bentuk sindiran di atas, yaitu priyayi dan pejabat merupakan sebuah indikator yang dikritik oleh pengarang mengenai kondisi sosial zaman sekarang. Priyayi zman sekarang ternyata berbeda dengan priyayi zaman dahulu. Priyayi zaman sekarang dinilai oleh pengarang sebagai masyarakat yang kurang berharga. Berbeda dengan priyayi zaman dulu. Gambaran tersebut diungkapkan oleh Tohari dalam sebuah perbandingan pohon jengkol yang tidak mau menjadi tutup lahatnya ketika mereka meninggal. Sebuah sikap pengarang yang perlu dicontoh. Sebuah penolakan terhadap kedholiman.

Kedua cerpen di atas hampir setiap kalimatnya  berisikan sindiran yang bernada mengkritik. Sindiran terhadap para priyayi (pegawai). Dulu mereka bekerja untuk mengabdi dan melayani rakyat. Priyayi zaman sekarang  sebaliknya, ingin dilayani oleh rakyat seperti halnya raja. Melalui cerpen ini, pengarang menyodorkan kritik bahwa priyayi zaman sekarang miskin akan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati. Mereka cenderung mementingkan diri sendiri dan golongannya. Mereka kurang memahami penderitaan rakyat banyak. Itulah sebabnya, pohon jengkol saja tidak mau menjadi tutup liang lahatnya.

Sifat hedoisme, mementingkan dunia belaka juga mendapat sorotan pengarang yaitu ada cerpen “Rumah yang Terang”. Aspek sosial lainnya seperti perilaku masyarakat yang lupa akan asal-usulnya setelah mendapatkan kenikmatan juga mendapat kritikan seperti dalam cerpen “Kenthus”. Pergeseran nilai sosial yang berubah menjadi kebobrokan moral dipaparkan dalam cerpen “Blokeng”. Cerpen ini menggambarkan ketidakpedulian masyarakat terhadap penderitaan tokoh Blokeng (gadis tidak normal) yang terlah hamil tanpa diketahui siapa yang menghamili. Banyak memang, hikmah yang dapat diambil mengenai kritik sosial dalam buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari ini.

Apabila Senyum Karyamin kita kaji dan dideskripsikan secara detail, akan diperoleh gambaran kritik sosial mengenai sosial budaya, birokrasi, keamanan, perekonomian (perbankan, koperasi)  asuransi, hubungan majikan dan buruh, priyayi atau pegawai, nilai moral, agama, dan pola kehidupan lain termasuk pola hidup sederhana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar